Facebook dan fenomena nya.

Facebook dan fenomenanya

Hanya sebagai masukan bagi yang suka ber FB ria, bukan bermaksud menggurui.

———————————————————————————————————-

Saat prahara dalam keluarga sudah dijadikan tontonan yang dinanti dalam sebuah tayangan infotainment setiap hari. Ketika keburukan seseorang ditunggu-tunggu jutaan mata bahkan dalam berita-berita media massa.

Ketika seorang public figur dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensase yang ditunggu-tunggu …

Ada khabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang public figur yang belum resmi berpisah dengan pasangan hidupnya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama orang lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok pasangannya yang sah.

mungkin kita bisa berkata “ya biasalah namanya juga artis, kehidupannya ya seperti itu, kadang suka cari sensasi. kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh masyarakat umum.

Diluar dugaan…… ternyata sekarang bukan hanya public figure atau artis saja yang bisa seperti itu, disadari atau tidak, ribuan orang sekarang sedang suka atau bahkan senang jika aktivitasnya apapun diketahui orang, di kasih komentar oleh orang bahkan mohon maaf  kadang….’dilecehkan’ orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan atau justru malah bangga, walaupun kadang ada yang berakhir dengan pengaduan ke polisi karena merasa dilecehkan dengan komentar yang keterlaluan padahal dirinya sendiri yang menjadi penyebab timbulnya komentar – komentar itu.

Fenomena itu bernama facebook, setiap saat para facebooker (biasa disebut begitu) meng update statusnya/kegiatan agar bisa dinikmati dan dikomentari para facebooker lainnya. Entah lupa atau disengaja hal-hal yang semestinya hanya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Beberapa contah yang mungkin sering sama – sama ditemui:

Seorang wanita menuliskan “Hujan gini malam-malam

sendirian, enaknya ngapain ya…..?”——sesaat kemudian komentar bermunculan dari lelaki dan perempuan yg merupakan sahabat-sahabat nya sendiri, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “mau gak ditemanin? anda puas saya lemas deh…”

Seorang wanita lainnya menuliskan “ pagi –pagi bangun tidur, badan sakit semua, ….gini nih klu habis malam jumat…:” kemudian komentar2 nakal bermunculan. .. Ada juga yang menulis “ bete nih di rumah terus, mana misua(baca:suami) jauh lagi….”, —-kemudian komentar2 pelecehan bermunculan yang timbul karena ulahnya sendiri.

Ada pula yang komentar di wall temannya “ eeeh ini si fulan ya …., yang dulu dekat dengan si itu khan?

Aduuh dicariin tuh sama si itu….” —-tanpa disadari klu si fullan sudah punya suami dan anak-anak yang manis.

Yang laki-laki tidak mau kalah hebat menulis statusnya “habis minum ramuan madura nih…., ada yang mau menerima tantangan ?’—-langsung berpuluh2 komentar datang.

walaupun hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit…”

Ada juga yang nulis “ duh malem nih  panas banget…bakal tidur gak pake dalaman lagi nih” .

Dan ribuan status-status yang numpang tenar istilahnya dan sekedar ingin ada komentar-komentar dari yang lainnya. Dan itu secara sadar ataupun tidak sadar justru dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada yang lebih kejam dari hanya sekedar status di facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan baik dari diri kita sendiri ataupun malah dari orang lain yang tidak seharusnya kita tampilkan.

Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru saja di upload di albumnya, foto-foto saat SMU dulu setelah pelajaran olah raga memakai kaos dan celana pendek…..padahal tanpa dia ketahui sekarang sebagian besar yg didalam foto tersebut sudah berjilbab. Ada seorang karyawati meng-upload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan bahkan berpelukan dengan ceria….

Bahkan ada pula seorang pria meng upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.

Rasanya hilang sudah apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah…., yaitu Muhammad SAW, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.ha

“ Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Istri tercinta, sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab “ Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”. Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah rasulullah.

Ingatlah Abdurahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya,maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda, “Malu itu sebahagian dari iman”.

(Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dikemas dengan ‘persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga,apa yang seharusnya tidak diketahui, bahkan allah SWT  pun menutup aib kita di dunia ini, mengapa justru kita mengumbar aib orang lain.

Dan Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita

“Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).

Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak bermartabat yang semestinya dibuang

saja atau disimpan rapat bukan untuk dipublikasikan.

Bagi mereka para wanita yang telah menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah, hatinya pasti teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat hanya demi kesenangan semu hanya demi senda gurau tak bermanfaat.

Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu, mudah-mudahan  Allah menjaga aib-aib kita. Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat Iffah kita luntur tak berbekas.

Mohon kiranya untuk men-tag ataupun men-sharing artikel ini dengan orang yang Anda kasihi demi kebaikan kita bersama.

dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: